GREEN NORD 27

GREEN NORD 27

Minggu, 14 Oktober 2012

Foto-foto Bonek di Ultras-Tifo Forum

http://z6.invisionfree.com/UltrasTifosi/index.php?showtopic=14873

Kamis, 27 September 2012

GREEN NORD 27

Green nord’27, hanyalah sebuah nama untuk tribun di stadion. Tepatnya di tribun Utara. Dilihat dari sisi penamaan sudah sangat jelas, ‘NORD’ = North yang dalam bahasa Indonesia adalah Utara. Sedangkan ‘GREEN” dan 27 di ambil dari warna kebanggaan Persebaya dan tahun kelahiran Persebaya. Analoginya seperti di Stadion Old Trafford yang rencanaya akan memberikan nama “Sir Alex Ferguson” sebagai nama tribun Utara di stadion tersebut. Perlu diketahui juga, bahwa Green Nord’27 bukanlah nama kelompok suporter baru dan juga bukan sebuah komunitas. Green Nord’27 adalah milik kita bersama Bukan milik komunitas tertentu. Tidak ada yg mendominasi, tidak ada yg memonopoli, Tidak ada yg merasa paling heroik, paling berjasa dan merasa paling memiliki. Semua Satu Hati, Satu Sikap dan Satu Tindakan.
Green Nord 27 merupakan kepemilikan kolektif, dimiliki secara bersama
Keyakinanlah yg membuat kita semakin solid dan kuat. Di dalam tribun Green Nord’27 sendiri terdapat berbagai macam komunitas Bonek dan Bonek yang tidak berkomunitas. Mereka berkumpul disana dengan persamaan visi dan misi. Yaitu dengan total, loyal dan royal dalam memberikan dukungan kepada Persebaya. Yang tentunya tidak hanya bersorak “Hore” saat Persebaya meraih kemenangan dan berprestasi. Tetapi juga turut merasakan sedih di kalah Persebaya sedang terpuruk. Kalah tetap ku dukung, Menang ku sanjung. Tapi tidak hanya itu saja, juga tidak segan untuk memberikan kritikan kepada Persebaya. Baik itu pelatih maupun manajemen yang dianggap telah salah dalam mengambil keputusan maupun hal-hal lainnya.
Dalam perjalanannya dan dinamika yang terjadi, Green Nord’27 banyak yang beranggapan bahwa itu nama suporter baru dan komunitas baru. Bahkan banyak isu-isu yang di hembuskan untuk ditujukan pada Green Nord’27. Mulai nama, balaclava, warna baju, logo, salam dan tentunya yang paling ‘WOW’ adalah pendanaan. Tentang nama jelas telah di singgung di atas. Kemudian tentang penggunaan balaclava. Yah, Balaclavas atau topeng, Garis besarnya untuk melindungi kita dari percikan api red flare dan kepulan asap smoke bomb. Yang lain just style (Multifungsi). Kalau toh dipakai terus saat di dalam stadion tentu saja akan kesulitan mengeluarkan suara dan akan tidak terdengar jelas saat melakukan “chant’. Jadi balaclava ketika di dalam stadion lebih kepada fungsi safetynya. Untuk di luar, itu bisa di pakai semacam slayer saat mengendarai sepeda motor agar tidak terkena asap polusi dan debu hehehe......
Kemudian mengenai warna baju, ada yang mengatakan “Bonek kok ireng, Bonek iku Ijo”. Kalau menurut pendapat pribadi penulis, yang Ijo itu Persebaya bukan Boneknya. Bonek hanya mengikuti apa yang di pakai Persebaya. Sedangkan kita semua tentu mengerti, banyak juga kaos atau t-shirt yang mengatasnamakan Bonek juga berwarna hitam dan bahkan ada yang berwarna silver dan lain sebagainya. Toh, kalau penulis boleh berpendapat lagi. Penggunaan warna itu di dasari oleh selera dan minat dari tiap-tiap individu maupun komunitas. Serta ketika kita berbicara mengenai pangsa pasar, masih ingat betul ketika ada sebuah pembicaraan dengan seseorang yang menggeluti dunia fashion. “Kaos Bonek itu tidak perlu selalu warna hijau, juga perlu didesain yang semenarik mungkin jika nantinya kaos tersebut bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan tidak hanya di pakai saat mendukung Persebaya”. Jujur, itu sebuah wacana menarik. Kaos Bonek juga bisa di desain semenarik dan sesimple mungkin sehingga juga bisa digunakan untuk kongkow-kongkow di mall atau di tempat-tempat lainnya. Oke, kembali ke permasalahan Green Nord’27. Salah satu alasannya seperti yang sudah di utarakan di atas. Tapi kami juga ingin menepis anggapan yang ditujukan kepada kami bahwa kami telah merubah ‘ciri khas’ dengan cara mensosialisasikan penggunaan jersey Persebaya di saat mendukung Persebaya.
Logo, bukan berarti sebuah logo tanpa makna. Logo bisa di katakan sebagai sebuah simbolisasi identitas. Ketika berbicara logo Bonek tentu “cangkem mangap” kenapa penulis tidak mengatakan “ndas mangap” ? mudah jawabannya, yang mangap itu mulut atau kepalanya? Disitulah letak jawabannya. Logo Bonek merupakan sebuah simbolisasi identitas yang menggambarkan tentang sebuah semangat untuk memberikan dukungan kepada Persebaya. Yang kemudian logo Bonek pun juga banyak berubah dan banyak dimodifikasi dari logo aslinya. Kenapa terjadi? Tentu saja itu juga ada hubungannya dengan sebuah identitas, minat serta fashion. Langsung saja ke pembahasan logo yang sering di pakai Green Nord’27. alasannya cukup simple, yaitu sama seperti apa yang menjadi landasan alasan memakai balaclava. Itu hanya sebagai sebuah simbol dan identitas saja yang menggambarkan cara memberikan dukungan kepada Persebaya sebagai bentuk kreatifitas, dan tentunya tidak meninggalkan apa yang sudah menjadi warisan tentang logo Bonek. Semoga disini sudah jelas alasannya.
Salam, Salam yang selama ini dan sudah menjadi paten bagi Bonek adalah Salam Satu Nyali dan kemudian di jawab dengan WANI !. ketika ada yang mengatakan Green Nord’27 merubah salam tersebut adalah salah besar dan itu hanya tuduhan ngawur. Salam tetap Assalamu Alaikum (Bagi umat Islam) dan Salam sejahtera (Bagi Non-Islam) itu ketika kita bertegur sapa. Untuk Salam Satu Nyali tetap di gunakan sebagai salam yang kedua setelah salam pembuka ketika sedang ada acara seperti kopdar atau acara-acara lainnya. Sekarang kalau boleh penulis bertanya, apakah setiap Bonek tahu sejak kapan penggunaan Salam Satu Nyali tersebut? Akan sangat disayangkan ketika kita dengan tegas mengatakan “Salam e Bonek kaet biyen iku Salam Satu Nyali” Tapi tidak tahu kapan salam itu mulai dipergunakan. Penulis berani bilang seperti ini karena tahu sejak kapan salam tersebut di gunakan meskipun tidak ikut secara langsung namun mendapat sumber dan referensi yang terpercaya. Kemudian menanggapi mengenai salam yang sering muncul dan yang sering dikatakan ‘merubah’ salamnya Bonek yaitu “Salam Manis Loyalis Persebaya”. Salam itu muncul ketika adanya konflik dualisme Persebaya. yang tentunya bertujuan menunjukkan bahwa Bonek itu “Loyal” terhadap Persebaya. Selain itu salam itu juga hanya sifatnya untuk ‘Guyon’ saja. Seperti halnya adanya “Salam Assololey, Salam Dua Kursi dan lain sebagainya. Sekali lagi kami tekankan salam kami tetap Assalamu Alaikum dan Salam Sejahtera, kemudian dilanjut dengan SALAM SATU NYALI !!
Dan terakhir adalah Pendanaan. Kenapa penulis di atas mengatakan paling ‘WOW’ ? karena ini adalah hal yang paling vital dan munculnya isu-isu yang terkait tentang pendanaan tersebut. Muncul anggapan bahwa setiap kali kreatifitas dan aksi yang dilakukan oleh Green Nord’27 berasal dari sebuah ‘Dana Gelap’. Dana gelap disini yang dimaksudkan adalah adanya back-up dari salah satu Partai Politik. Cukup aneh ketika anggapan tersebut ditujukan kepada Green Nord’27, Padahal di dalam Green Nord’27 sendiri sering didengungkan menolak Politisasi dalam sepakbola. Khususnya di Persebaya dan terlebih lagi di dalam dunia suporter yang biasanya hanya akan dimanfaatkan sebagai komoditas saja oleh para elit politik. Kalau boleh tebuka mengenai dana yang selama ini dipakai untuk kreatifitas dan aksi Green Nord’27, itu semua murni dr dulur2 yang ada di tribun kami. Setiap kali kopdar, akan selalu ada memutar kardus u/ pendanaan. Itupun dengan tarikan seikhlasnya tanpa ada paksaan. Tentunya Hasil pasti diumumkan. Selain itu dana yang di dapat juga berasal dari beberapa dulur-dulur Bonek yang ikhlas memberikan sedikit bantuan untuk kreatifitas dan aksi atraksi Green Nord’27. Ambil contoh dari beberapa elemen bonek dan non-elemen yang tergabung di tribun Green Nord’27, mereka dengan sukarela dan ikhlas memberikan sedikit bantuan untuk kreatifitas. Tentu juga banyak yang tahu khususnya dulur-dulur yang mengikuti perkembangan Green Nord’27, sering melakukan penggalangan dana untuk aksi. Berapa pun di terima. Termasuk saat adanya pelelangan jersey pemain, jualan nomer cantik, stiker, kaos dan masih banyak lainnya. Itu semua dana murni bukan dari 'parpol'. Selain itu juga berswadaya membentuk badan usaha dari penjualan T-shirt dan keuntungan 100% untuk biaya Kreatifitas. 100% murni dana yang didapat dari hasil penjualan T-shirt, Flare, Sticker, Jersey dll. Bukan dari dana gelap PARPOL. Dari kerja keras dan usaha para dulur2, Green Nord’27 pernah diundang ON AIR radio EBSFM Clear Eurovaganza di Jl.Raya Darmo. #CarFreeDay uang pembinaan 900rb untuk atraksi. Dan juga Uang pembinaan 500rb kami dapat dari hasil The Best Yel-Yel supporter Satu Nyali Cup Futsal. Dan setiap selesai atraksi pasti akan ada LPJ dari hasil dana yang di dapat tersebut. Transparan dan tidak ditutup-tutupi, karena masalah Uang adalah masalah yang sangat vital. Kami dengan tegas dan lantang mengatakan "AGAINST POLITICAL FOOTBALL". Silahkan diberikan bukti dan fakta mengenai adanya dana gelap dari parpol. Kami Ada Kami Bisa, Together We Can Because We Are Family. (KK)
SALAM SATU NYALI !!!

Kamis, 30 Agustus 2012

Rabu, 29 Agustus 2012

                                                             Bonek kembali ke Khittah


  • Persebaya, Sebuah klub asal Surabaya yang berdiri pada 18 Juni 1927. Klub yang sarat akan prestasi dan memunculkan segudang pemain hebat nasional. Terhitung sudah 7 Gelar juara liga yang diraih oleh Persebaya. Baik saat masih era perserikatan maupun ketika kompetisi sudah melebur menjadi satu. Galatama dan Perserikatan. Tak pelak dengan adanya prestasi tersebut yang kemudian menjadikan Persebaya sebagai tim besar dan disegani oleh tim-tim Indonesia lainnya. Namun, tidak hanya prestasi saja yang bisa dibanggakan oleh Persebaya. Tetapi juga, memunculkan para pemain-pemain hebat nasional dari hasil binaan mereka.

    Segudang prestasi yang di dapatkan oleh Persebaya tidak bisa dilepaskan oleh adanya pendukung atau suporter mereka. Ya, karena peran suporter disini juga sangat berpengaruh bagi sebuah klub. Klub dan Suporter itu sangat erat kaitannya. Gampangnya, akan saling menguntungkan satu sama lain. Biasa disebut dengan ‘Simbiosis Mutualisme’. Sepak bola tanpa Suporter ibarat sayur tanpa garam, sepak bola tanpa suporter bagai banteng tanpa tanduk. Sebuah klub akan dapat mencapai prestasinya juga ada faktor suporter selain pemain-pemain yang hebat, manajemen yang profesional serta pembinaan pemain yang mumpuni. Di sinilah letak fungsi suporter merupakan bagian yang sangat vital bagi klub. Suporter dan sepak bola bisa dikatakan muncul beriringan. Dimana ada sepak bola disitu pasti ada suporter. Karena sepak bola merupakan salah satu olahraga yang global di seluruh penjuru dunia. Peranan penting suporter adalah memberikan dukungan kepada klub kebanggaannya. Baik dukungan secara moral maupun materiil.

    Terlepas dari semua itu, suporter Persebaya juga merupakan salah satu suporter fanatik yang ada di Indonesia. Bahkan banyak kalangan yang menyebut suporter Persebaya merupakan pelopor suporter modern di Indonesia. Pernyataan itu mungkin tidak berlebihan jika kita menengok fakta sejarah suporter persebaya kisaran tahun 80-90an. Dimana mereka para suporter rela meninggalkan segala aktivitasnya dan merogeh koceknya hanya untuk mendukung Persebaya. Sehingga pada waktu itu memunculkan sebuah istilah yang disematkan kepada suporter Persebaya, yaitu dengan sebutan ‘Bonek’ (Bondho Nekat). Istilah itu muncul sebagai sebuah representasi dari semangat dan militansi para suporter Persebaya ketikan mendukung Persebaya. Baik di kandang dan terlebih lagi ketika bermain tandang.
    Namun, semangat dan militansi suporter Persebaya ini ketika memasuki dekade tahun 90-an keatas bisa dikatakan kelam dan tidak dibarengi semangat positif para pendahulunya. Ada anggapan bahwasanya terputus dan tidak adanya sinergisitas antara generasi sebelumnya dengan generasi selanjutnya. Jika di Inggris, masa kelam suporter itu terjadi ketika tahun 1960 hingga 1980-an yang biasa di sebut dengan ‘Hooliganisme’. Di Indonesia justru terjadi pada tahun 1990-an keatas. Banyak tindakan-tindakan yang tidak seharusnya di lakukan oleh seorang suporter. Tindak kriminal serta kekerasan sering terjadi pada masa itu. Selain itu, berbagai media massa maupun elektronik juga berperan di dalamnya. Yang justru memperkeruh keadaan. Pemberitaan yang tidak seimbang dan sering menjudge suporter Persebaya sebagai suporter paling rusuh dan anarkis. Anehnya lagi, media akan sangat senang jika ada aktivitas ataupun tindakan negatif dari para suporter. Bahkan akan menjadi headline news dan pemberitaannya akan terus menerus. Dari sinilah, suporter Persebaya yang terkenal dengan sebutan Bonek itupun dicap sebagai sampah masyarakat. Bahkan banyak yang membenci. Akan tetapi, tidak bisa di generalisasikan bahwa itu semua merupakan Bonek. Seorang Gubernur Jawa Timur pada waktu itu, Basofi Soedirman mengatakan itu bukan Bonek tapi itu Boling (Bondho Maling). Dan satu hal lagi yang menjadi sebuah kisah atau cerita unik dari suporter Persebaya ini adalah ketika para suporter dipulangkan menggunakan kapal perang dari Jakarta ke Surabaya. Hal itu dikarenakan dikhawatirkan akan adanya bentrokan antara suporter Persebaya dengan suporter Semarang. Karena pada waktu itu hubungan antara kedua suporter tersebut tidak harmonis seperti yang terjadi pada saat ini. Pemulangan suporter dengan menggunakan kapal perang ini bisa dikatakan merupakan satu-satunya di Indonesia atau bahkan di Dunia.

    Seiring berjalannya waktu dan dinamika yang terjadi pada suporter Persebaya, Bonek. Lambat laun aksi kekerasan serta tindak kriminal semakin berkurang. Dikarenakan mulai munculnya kesadaran dari tiap-tiap individu maupun kelompok yang menyadari tidak ada manfaatnya dan justru akan merugikan diri kita sendiri tentu saja juga merugikan Persebaya serta tidak ingin hal semacam ini akan menular kepada generasi selanjutnya. Cukup terjadi pada masa-masa itu saja. Sebagai suporter selain mendukung juga harus menjaga nama baik klub yang didukungnya. Tindakan serta aksi-aksi positif mulai bermunculan dan sering dilakukan oleh para Bonek. Baik di dalam stadion ketika mendukung Persebaya bertanding serta saat di luar. Contoh kecilnya ketika di dalam stadion, adanya berbagai atraksi dan kreatifitas dari bonek untuk mendukung Persebaya. Jadi penonton ataupun suporter tidak hanya terhibur dengan aksi para pemain ketika di lapangan hijau saja. Tetapi, juga mendapatkan hiburan tambahan dari para suporter dengan berbagai atraksi dan kreatifitas tersebut. Dan untuk aksi yang ada di luar stadion lebih mengarah kepada sebuah aksi sosial. Yang mana tidak hanya melibatkan para suporter tetapi juga melibatkan masyarakat sekitar. Seperti halnya acara ketika di bulan Ramadhan. Bagi takjil, baksos ke panti asuhan dan lain sebagainya. Untuk yang di luar bulan Ramadhan ada juga kegiatan seperti aksi ziarah ke makam para pahlawan, mantan pemain Persebaya, Renungan, Cabut paku, Penghijauan serta kegiatan-kegiatan positif lainnya. Hal ini tentu merupakan angin segar terhadap para suporter Persebaya, banyak pihak yang mengapresiasi aksi-aksi tersebut. yang mana kemudian muncul sebuah celetukan “Kami bukan yang terbaik tetapi kami ingin menjadi lebih baik”. Sangat mengena jika bisa memahami arti dari celetukan tersebut. Namun, tidak mudah untuk menjadi lebih baik. Masih banyak halangan serta problem-problem yang menerpa. Problem Internal maupun Eksternal. Pelan tapi pasti, jika kata orang Jawa ‘Alon-alon asal klakon’ dan juga barangsiapa yang menanam kebaikan pasti akan menuai kebaikan pula. Sabar dan tetap beristiqomah adalah kunci untuk bisa menggapai kesuksesan serta menjadi lebih baik. Sedikit menganalogikan apa yang sedang terjadi pada suporter Persebaya saat ini dengan pertanyaan seperti ini, lebih baik mana antara mantan ustad dengan mantan preman?.
    Silahkan dijawab sendiri smile

    (Ahmad Arif Chusnuddin/Kadjie Kampret)

Together We Can

lagu by :

superman is dead-kuat kita bersinar


Bonek Tribun Utara - Green Nord 27